Rabu, 09 Desember 2009

ASBABU MAHABBAH

dari mata turun kehati

Rabu, 02 Desember 2009

sepi

sepi senyap hening

Sabtu, 28 November 2009

HUJAN

Awan mulai mnyelimuti bumi,smbaran klat bgtu menyermkan,itu prtdanyamau hujan.

Kamis, 19 November 2009

KEBINGUNGAN

KU slalu di buat bingung dengan sikap mu, harus bagaimanakah diri ku ini......
ya Allah hilangkanlah diriku dari kebingungan....

Selasa, 01 September 2009

MERASA

Kalau Orang Sudah Merasa pasti ga Kerasa
dan Perbuatan tersebut Berdosa,

Jumat, 21 Agustus 2009

Ramadhan


Marhaban ya ramadhan, ramadhan telah tiba
Ramadhan bulan yang suci
ku berusaha hati ku selalu suci walaupun hanya sebesar Virus

Kamis, 20 Agustus 2009

Pesantren Dalam Masa Transisi

Pondok Pesantren adalah suatu lembaga non-formal

Rabu, 19 Agustus 2009

Sukses

Tidak sedikit orang yang sukses setelah mengalami bencana karena mereka memiliki kemampuang sabar, tawakal, jujur, dan yakin bahwa Allah-lah penolong mereka.

Maksiat


Maksiat hobiku dosa makananku neraka tempat tinggalku.
Surga Cita-citaku Ya Allah Dzat yang Maha pengampun ampunilah
diriku yang selalu berbuat dosa dan dosa.

Batu Batu Yang Aneh


Dalam sebuah hadis menceritakan, pada zaman dahulu ada seorang lelaki wukuf di Arafah. Dia berhenti di lapangan luas itu. Pada waktu itu orang sedang melakukan ibadat haji. Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang sangat penting. Bahkan wukuf di Arafah itu disebut sebagai haji yang sebenarnya kerana apabila seorang itu berwukuf di padang Arafah dianggap hajinya telah sempurna walaupun yang lainnya tidak sempat dilakukan.
Sabda Rasulullah mengatakan :"Alhajju Arafat" (Haji itu wukuf di Arafah)
Rupanya lelaki itu tadi masih belum mengenali Islam dengan lebih mendalam. Masih dalam istilah 'muallaf'. Semasa dia berada di situ, dia telah mengambil tujuh biji batu lalu berkata pada batu itu:"Hai batu-batu, saksikanlah olehmu bahwa aku bersumpah bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu pesuruh Allah."
Setelah dia berkata begitu dia pun tertidur di situ. Dia meletakkan ketujuh-tujuh batu itu di bawah kepalanya. Tidak lama kemudian dia bermimpi seolah-olah telah datang kiamat. Dalam mimpi itu jyga dia telah diperiksa segala dosa-dosa dan pahalanya oleh Tuhan. Setelah selesai pemeriksaan itu ternyata dia harus masuk ke dalam neraka. Maka dia pun pergi ke neraka dan hendak memasuki salah satu daripada pintu-pintunya.
Tiba-tiba seketika batu kecil yang dikumpulnya tadi datang dekat pintu neraka tersebut. Tetapi mereka tidak sanggup rupanya. Malaikat azab telah berada di situ. Semua malaikat itu menolaknya masuk ke pintu neraka tersebut. Tapi sanggup rupanya. Kemudian dia pun pergi ke pintu lain. Para malaikat itu tetap berusaha hendak memasukkannya ke dalam neraka tapi tidak berjaya kerana batu mengikut ke mana saja dia pergi.
Akhirnya habislah ketujuh pintu neraka didatanginya. Para malaikat yang bertindak akan menyiksa orang-orang yang masuk neraka berusaha sekuat tenaga untuk menolak lelaki itu dalam neraka tetapi tidak berjaya. Sampai di pintu neraka nombor tujuh, neraka itu tidak mahu menerimanya kerana ada batu yang mengikutinya. Ketujuh-tujuh batu itu seolah-olah membentengi lelaki itu daripada memasuki neraka. Kemudian dia naik ke Arasy di langit yang ketujuh. Di situlah Allah berfirman yang bermaksud :"Wahai hambaku, aku telah menyaksikan batu-batu yang engkau kumpulkan di padang Arafah. Aku tidak akan menyia-nyiakan hakmu. Bagaimana aku akan menyia-nyiakan hakmu sedangkan aku telah menyaksikan bunyi 'syahadat' yang engkau ucapkan itu. Sekarang masuklah engkau ke dalam syurga."
Sebaik saja dia menghampiri pintu syurga itu, tiba-tiba pintu syurga itupun terbuka lebar. Rupanya kunci syurga itu adalah kalimat syahadat yang diucapkannya dahulu.

PERKEMBANGAN BARU PENULISAN MUSHAF PASCA UTSMAN


PERKEMBANGAN BARU PENULISAN MUSHAF PASCA UTSMAN

Pemberian Harakat (Nuqath al-I’rab)
Sebagaimana telah diketahui, bahwa naskah mushaf ‘Utsmani generasi pertama adalah naskah yang ditulis tanpa alat bantu baca yang berupa titik pada huruf (nuqath al-i’jam) dan harakat (nuqath al-i’rab) –yang lazim kita temukan hari ini dalam berbagai edisi mushaf al-Qur’an-. Langkah ini sengaja ditempuh oleh Khalifah ‘Utsman r.a. dengan tujuan agar rasm (tulisan) tersebut dapat mengakomodir ragam qira’at yang diterima lalu diajarkan oleh Rasulullah saw. Dan ketika naskah-naskah itu dikirim ke berbagai wilayah, semuanya pun menerima langkah tersebut, lalu kaum muslimin pun melakukan langkah duplikasi terhadap mushaf-mushaf tersebut; terutama untuk keperluan pribadi mereka masing-masing. Dan duplikasi itu tetap dilakukan tanpa adanya penambahan titik ataupun harakat terhadap kata-kata dalam mushaf tersebut. Hal ini berlangsung selama kurang lebih 40 tahun lamanya.
Dalam masa itu, terjadilah berbagai perluasan dan pembukaan wilayah-wilayah baru. Konsekwensi dari perluasan wilayah ini adalah banyaknya orang-orang non Arab yang kemudian masuk ke dalam Islam, disamping tentu saja meningkatnya interaksi muslimin Arab dengan orang-orang non Arab –muslim ataupun non muslim-. Akibatnya, al-‘ujmah (kekeliruan dalam menentukan jenis huruf) dan al-lahn (kesalahan dalam membaca harakat huruf) menjadi sebuah fenomena yang tak terhindarkan. Tidak hanya di kalangan kaum muslimin non-Arab, namun juga di kalangan muslimin Arab sendiri.
Hal ini kemudian menjadi sumber kekhawatiran tersendiri di kalangan penguasa muslim. Terutama karena mengingat mushaf al-Qur’an yang umum tersebar saat itu tidak didukung dengan alat bantu baca berupa titik dan harakat.
Dalam beberapa referensi[10] disebutkan bahwa yang pertama kali mendapatkan ide pemberian tanda bacaan terhadap mushaf al-Qur’an adalah Ziyad bin Abihi, salah seorang gubernur yang diangkat oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan r.a. untuk wilayah Bashrah (45-53 H). Kisah munculnya ide itu diawali ketika Mu’awiyah menulis surat kepadanya agar mengutus putranya, ‘Ubaidullah, untuk menghadap Mu’awiyah. Saat ‘Ubaidullah datang menghadapnya, Mu’awiyah terkejut melihat bahwa anak muda itu telah melakukan banyak al-lahn dalam pembicaraannya. Mu’awiyah pun mengirimkan surat teguran kepada Ziyad atas kejadian itu. Tanpa buang waktu, Ziyad pun menulis surat kepada Abu al-Aswad al-Du’aly “Sesungguhnya orang-orang non-Arab itu telah semakin banyak dan telah merusak bahasa orang-orang Arab. Maka cobalah Anda menuliskan sesuatu yang dapat memperbaiki bahasa orang-orang itu dan membuat mereka membaca al-Qur’an dengan benar.”
Abu al-Aswad sendiri pada mulanya menyatakan keberatan untuk melakukan tugas itu. Namun Ziyad membuat semacam ‘perangkap’ kecil untuk mendorongnya memenuhi permintaan Ziyad. Ia menyuruh seseorang untuk menunggu di jalan yang biasa dilalui Abu al-Aswad, lalu berpesan: “Jika Abu al-Aswad lewat di jalan ini, bacalah salah satu ayat al-Qur’an tapi lakukanlah lahn terhadapnya!” Ketika Abu al-Aswad lewat, orang inipun membaca firman Allah yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.” (al-Taubah: 3)

Rabu, 12 Agustus 2009

HERMENEUTIKA ATAU ULUMUL QUR’AN, ILMU TAFSIR ?


HERMENEUTIKA ATAU ULUMUL QUR’AN, ILMU TAFSIR ?

Siapa yang tidak tahu Hermeneutika, ya mungkin ada orang yang tabu tentang hermeneutika. Ya intinya sama aja ama Ulumul Qur’an yaitu mentafsirkan Al-Qur’an. Tapi kalau hermenetika biasanya digunakan untuk menafsirkan Bibel, jadi Al-Qur’an dipaksakan ditafsirkan dengan menggunakan pentafsiran Bibel.
Ya berarti Al-Qur’an sama dengan Bibel dong!!!. Sudah yang menemuka metode hermeneutika tersebut orang Kristen lagi. Kan orang Islam mempunyai ilmu tersendiri untuk menafsirkan Al-Qur’an kenapa tidak pakai Ulumul Qur’an aja ???

Sama ga sih Bibel dan Al-Qur’an ?????

Seberapa besarkah peranan Hermenetika dalam menafsirkan Al-Qur’an ?...............

Nah Kalau begitu bagainama dibalik saja Bibel ditafsiri dengan Ilmu tafsir sedangkan Al-Qur’an dengan hermeneutika kira-kira gimana ya ???

Kata mereka yang setuju dengan hermeneutika karena melihat umat Islam terkurung (kaya burung aja) oleh dogmatisme keagamaan yang tidak proporsional. Terus kata mereka lagi model pendidikan ala sekolah dengan pola murid-guru dan tatap muka di kelas seperti yang kita kenal selama ini sebenarhya adalah warisan dari Barat, khususnya dari tradisi Kristen-Skolastik. Sejarah Islam sendiri mengajarkan model pendidikan ala Pesantren dan halaqah. Apakah itu berarti umat Islam berarti tidak perlu masuk sekolah ? contoh ini belum termasuk banyak fenomena senada seperti listrik, telepon, koputer, dan lain sejenisnya. Kata mereka……
Baiklah menurut saya kayanya mereka belum pernah mendengan suatu kaidah “ Al-Muhafadlotu ‘ala qadimi as-Shalih wa al-Akhzu bi al-Jadidi al-Ashlah” (Mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Nah sekolah dan yang lain sebaginya itu bukan lebih baik? Ya walapun warisan dari barat. Terus apaka ada sekolah yang berlebelkan Islam yang mempelajari Bibel dan hermeneutika kemudian diamalakan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah hanya system pembelajarannya saja bukan untuk bukan untuk mempalajari Bibel. Sekarang kita tinjau Hermeneutika adalah suatu metode untuk menafsirkan Al-Qur’an yang mana akan menghasilkan suatu kesimpulan hokum kemudian dipraktekan oleh masyarakat, dan menurut saya dalam menentukan hokum tidak sembarangan dan seenaknya. Terus hubungan dunia kok dikaitkan dengan hubungan akhirat, ya meskipun ada tapi, apadulu masalahnya itu !!!.

Senin, 10 Agustus 2009

POLITIK SANTRI ATAU SANTRI BERPOLITIK

Kata politik mungkin tidak asing lagi di telinga kita, politik sering diidentikan dengan pemerintah atau Negara. Namun kali ini saya akan membahas politik bukan hanya dalam lungkungan negara akan tetapi saya akan membahas semua jenis politik khususnya dalam lingkungan Pesantren. baik itu politik antara santri, Kyai,dan masyarakat sekitar........

Jumat, 24 Juli 2009

IKHTISAR


IKHTISAR

IMPLIKASI QIRAAT SAB'AH DALAM ISTINBATH HUKUM DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 222.


Orang Arab mempunyai keberagaman Lahjah (dialek) dalam langgam, suara dan huruf-huruf sebagaimana diterangkan secara komprehensif adalam kitab-kitab sastra, setiap kabilah mempunyai irama tersendiri dalam mengucapkan kata-kata yang yang tidak dimiliki oleh kabilah-kabilah yang lain. Namun kaum Quraisy mempunyai faktor-faktor yang membuat bahasa mereka lebih unggul dari bahasa Arab lainya, antara lain karena tugas mereka menjaga Baitullah, menjamu jamaah haji, memakmurkan Masjidil Haram dan mengusai perdagangan. Oleh sebab itu seluruh suku bangsa Arab menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa ibu bagi bahasa-bahasa mereka karena adanya karakteristik tersebut.
Dengan demikian, wajarlah Al-Quran diturunkan dalam bahasa Quraisy, kepada Rasul yang Quraisy pula, untuk mempersatukan bangsa Arab, dan wujud kemukjizatan Al-Quran sekaligus melemahkan mereka ketika diminta untuk mendatangkan satu surat yang seperti Al-Quran.
Apabila orang Arab berbeda dialek dalam pengungkapan suatu makna dengan beberapa perbedaan tertentu, maka Al-Quran yang diwahyukan Allah Kepada Rasul-Nya, menyempurnakan makna kemukjizatannya karena ia mencakup semua huruf dan ragam qiraat diantara lahjah-lahjah itu. Hal ini merupakan untuk memudahkan membaca, menghafal, dan memahaminya.
Dalam penelitian ini dirumuskan masalah terkait dengan judul di atas yakni : dari adanya varian suatu qiraat maka, dalam tinjauan hukum ikut berbeda penafsiran.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hukum dalam suatu varian qiraat. Dan memakai Imam Qiraat siapa saja Ahli Fiqh dalam mengambil suatu hukum.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan normatif dengan metode Deskriftip sebagai upaya penyusunan bahan penelitian, Library reseach (kajian pustaka) dengan metode analisi isi. Adapun kesimpulan menggunakan metode dedukatif dan comparative analisy (analisis perbandingan).
Dari penelitian ini dihasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam surat Al-Baqarah ayat 222 tersebut pada lafazh يَطْهُرْن ada yang membaca dengan Takhfîf. Dengan ketentuan hukum, di bolehkan para suami untuk menggauli istrinya walaupun belum mandi, dan cukup membasuh farjinya saja. Yaitu pendapatnya Abu Hanifah dan Auzai’.
2. Kemudian yang membaca dengan Tasydîd يَطَّهَّرْنَ . dengan ketentuan hukum, tidak boleh para suami menggauli istrinya sebelum dia suci (mandi). Yaitu pendapatnya Imam Syafi’i dan Ahmad.

Cinta

Allah-lah pemilik cinta, cintailah Allah, maka kita akan dicintai semua makhluk-Nya.

Kata-Kata Bijak

Orang yang hina adalah orang yang sibuk mencari kesalahan orang lain dan menyebarkannya.
Setiap ketaatan berbuah kebaikan dan kebahagiaan, setiap kemaksiatan berakhir dengan penderitaan.

QIRAAT SAB'AH2

Ilmu qirâ`at berbeda dengan ilmu tajwid memang dua buah realitas yang berbeda. Kalau ‘ilmu Qirâ`at menyangkut cara pengucapan lafazh, kalimat dan dialek (lahjah) kebahasaan Al–Quran. Sedangkan ‘ilmu Tajwîd, sesuai dengan pengertiannya adalah pengucapan huruf-huruf Al-Qur`an secara tertib, sesuai dengan makhroj dan bunyi asalnya. Jadi tajwid menyangkut tatacara dan kaidah-kaidah teknis yang dilakukan untuk memperindah bacaan Al-Qur`an . Secara Ontologi ilmu Qirâ`at adalah Al-Qur`an dari segi ragam arti kulasi lafal, sedangkan ilmu tajwid adalah Al-Qur`an dari segi teknis artikulasi lafal. Secara Epistemologi ilmu qirâ`at riwayat dari Rasulullah SAW. Sedangkan ilmu tajwid Drill organ vocal untuk artikulasi Makhârij al-hurûf secara benar. Secara Aksiologi ilmu qirâ`at mempertahankan orisinilitas Al-Qur`an dan instrument untuk memasuki ilmu tafsir. Sedangkan ilmu tajwid untuk menghindari kesalahan membaca lafal-lafal Al-Qur`an .
Informasi tentang qirâ`at diperoleh melalui dua cara yaitu; melalui pendengaran (simâ’i) dari Nabi oleh para Sahabat mengenai bacaan ayat-ayat Al-Qur`an , kemudia ditiru dan diikuti tabi’in dan gerasi-generasi sesudahnya hingga sekarang. Cara lain ialah melalui riwayat yang diperoleh melalui hadits-hadits yang disandarkan kepada Nabi atau Sahabat-sahabatnya.
Mempelajari qirâ`at harus melalui Talaqqi dan Musyafahah, karena dalam qirâ`at banyak hal-hal yang tidak bisa dibaca, kecuali mendengar langsung dari seorang guru dan bertatap muka. Seseorang tidak mungkin dapat membaca dengan benar tanpa melalui seorang guru.
Adapun yang pertama kali menyusun ilmu qirâ`at adalah para imam qirâ`at . Namun sebagian ulama mengatakan yang pertama kali menyusun ilmu ini adalah Abû Umar Hafsh bin Umar Ad-Duri. Sedangkan yang pertama kali membukukan adalah Abû Ubdaid Al-Qâsim bin Salâm.
Pada intinya ilmu Qirâ`at mempelajari Manhâj (cara, metode) masing qurra' sab'ah atau 'asyrah dalam membaca Al-Qur`an . Hal ini bisa disebut dalam istilah qirâ`at dengan "Ushûl al-Qâri`" (اصول القارئ). Kemudian satu hal lagi yang termasuk inti dalam ilmu qirâ`at adalah bagaimana para qura' sab'ah atau ‘asrah membaca lafazh-lafazh tertentu dalam Al-Qur`an di luar manhaj mereka. Seperti misalnya kalimat شُركاء sebagian qura' membaca شِرْكا . Hal-hal semacam ini tidak dapat di ushul al-qari'. Dalam ilmu Qirâ`at hal tersebut diistilakan dengan "Farsy al-Huruf ".
Untuk membaca dengan suatu qirâ`at atau riwayat diperlukan penguasaan ushul qari' dan farsy al-qari' secara bersama. Karena jika hanya menguasai ushûl qâri' tanpa farsy al-qâri` al-huruf atau menguasai farsy al-huruf saja sedangkan ushul qari'nya setengah-setengah, kemudian membaca Al-Qur`an dengan Qirâ`at tertentu, akan kacau jadinya. Dan jelas ini haram hukumnya ! Biasanya orang yang membaca dengan qirâ`at , pasti pernah bertemu (berhadapan) langsung dengan guru qirâ`at nya. Bahkan talqqi (berhadapan) merupakan syarat yang harus dipenuhi jika seorang ingin membaca dengan qirâ`at . Demi menghindari kesalahan yang tidak diharapkan. Farsy al-huruf menjelaskan cara membaca masing-masing qurra' pada kalimat tertentu dari surat Al-Fâtihah sampai surat An-Nâs.

QIRAAT SAB'AH


BAB I
PENGERTIAN QIRÂ`AT SAB‘AH
A. Pengertian Qirâ`at
Qirâ`at merupakan cabang ilmu tersendiri dalam ulumul Qur'an. Ilmu Qirâ`at tidak mempelajari halal-haram atau hukum-hukum tertentu. Menurut bahasa قراءات "Qirâ`ât" adalah bentuk jamak dari قراءة ”Qirâ`at” yang merupakan isim masdar dari قرأ ”Qara`a” artinya "Bacaan". Adapun menurut istilah, ilmu qira′at adalah sebagai berikut :
هُوَ عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ كَيْفِيَّةِ النُّطْقِ فِى الْكَلِمَاتِ الْقُرْاَنِيَّةِ وَطَرِيْقَةِ اَوَائِهَا اِتِّفَاقًا وَاخْتِلاَفًا مَعَ عِزٍّ وَكُلِّ وَجْهٍ لِنَاقِلِهِ.
“ Ilmu yang membahas tentang tata cara pengucapan kata-kata Al-Qur`an berikut cara penyampaiannya, baik yang disepakati (ulama ahli Al-Qur`an ) maupun yang terjadi dengan menisabkan setiap wajah bacaannya kepada seorang iman qiro’at".
Menurut Abu Syamah al-Dimisyqi adalah ilmu qirâ`at sebuah disiplin ilmu yang mempelajari cara melafalkan kosa kata Al-Qur`an dan perbedaannya yang disandarkan pada perawi yang mentransmisikannya.
Dengan jelas dapat kita ketahui bahwa al-Dimisyqi menganggap ilmu qirâ`at sebagai sebuah disiplin ilmu yang berbicara tentang tata cara artikulasi dan ragam perbedaan lafal Al-Qur`an . Beliau juga menegaskan dalam definisinya bahwa sumber dari Rasulullah SAW.
Syekh Az-Zarqoni mengistilahkan qirâ`at dengan : “suatu madzhab yang dianut oleh seorang imam dari pada imam qurro’ yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan Al-Qur`an al-Karîm dengan kesesuaian riwâyat dan tharîq darinya. Baik itu perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf atau pengucapan bentuknya. Di samping itu, Ibn Al-Jazari berpendapat bahwa Qirâ`at adalah pengetahuan tentang tatacara melafalkan kalimat-kalimat Al-Qur`an dan perbedaannya dengan membangsakannya kepada penukilnya.
Manna’ al-Qaththan berpendapat Qirâ`at adalah salah satu mazhab dari beberapa mazhab artikulasi (kosa kata) Al-Qur`an yang dipilih oleh salah seorang imam qirâ`at yang berbeda dengan mazhabnya.
Sedangkan Muhammad Ali Ash-Shabuni merumuskan definisi qirâ`at sebagai berikut : Qirâ`at adalah satu mazhab dari beberapa mazhab artikulasi (kosa kata) Al-Qur`an yang dipilih oleh salah seorang imam qirâ`at yang berbeda dengan mazhab lainnya serta berdasarkan pada sanad yang bersambung pada Rasulullah SAW.
Dari uraian di atas dapat diketahui aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi disiplin ilmu qirâ`at . Objek kajian (ontology) ilmu qairaat adalah Al-Qur`an dari segi perbedaan lafal dan cara artikulasinya. Metode mendapatkan (epistimologi) ilmu qirâ`at adalah melalui riwayat yang berasal dari Rasulullah SAW. Sementara nilai guna (aksiologi) ilmu qirâ`at, sebenarnya secara implicit dapat diketahui dari beberapa definisi yang telah disebutkan di atas, yakni untuk mempertahankan keaslian materi yang disampaikan. Hal ini bisa dipahami karena fungsi sistem riwayat tidak lain untuk mempertahankan orisinilitas informasi maupun data yang dituturkan secara berantai.